
Bali, 19 Maret 2011. Dalam rangka AOGIN Interim Meeting 2011, Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, PhD mengunjungi salah satu Puskesmas di Bali yang sudah melakukan program "See & Treat" untuk pencegahan kanker serviks. Puskesmas yang dikunjungi adalah Puskesmas Tabanan 3 yang menyediakan layanan deteksi dini dengan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) dan krioterapi (terapi yang dilakukan jika ditemukan lesi pra kanker), secara reguler kepada masyarakat di desa-desa di Tabanan. Penyediaan layanan pencegahan kanker serviks di puskesmas-puskesmas Bali diharapkan dapat lebih memacu daerah lain dalam melakukan hal yang sama.
Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa saat ini, program pengendalian kanker serviks di Indonesia ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) dan meningkatkan kualitas kehidupan pasien kanker. Program pengendalian kanker di Indonesia berfokus pada skrining kanker serviks dan kanker payudara, yang dimulai sejak tahun 2007. Skrining yang dilakukan untuk kanker serviks adalah dengan IVA.
Berdasarkan data statistik rumah sakit 2008, terlihat bahwa kanker serviks merupakan kanker kedua terbanyak di semua rumah sakit di Indonesia (10,3%), setelah kanker payudara (18,3%).
Puskesmas 3 Tabanan sudah memberikan pelayanan IVA secara mandiri sejak tahun 2009. Pelayanan IVA dan krioterapi ini diberikan setiap hari Sabtu, dimana setiap minggunya melayani 10-15 perempuan yang datang memeriksakan diri ke klinik IVA. Selama ini Puskesmas tersebut sudah pernah menemukan kasus kanker serviks yang kemudian dirujuk ke RSU Tabanan. Puskesmas Tabanan 3 juga sudah melakukan penyuluhan tentang pencegahan kanker serviks ke sekolah-sekolah, banjar-banjar dan instansi/kantor.
Dalam kunjungannya ke puskesmas tersebut, Menteri Kesehatan didampingi oleh Prof.Dr.dr. Ketut Suwiyoga, Sp.OG (K), Kepala Bagian Obsteri Ginekologi dari FK Universitas Udayana dan Dr.dr. Laila Nuranna Sp.OG (K), dari FK Universitas Indonesia, keduanya mewakili Panitia AOGIN Interim Meeting Bali. Di Puskesmas tersebut Menteri diterima oleh Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Kadinkes Tabanan dr. I Ketut Sumiarta M.Kes, Kepala Puskesmas dr. Ni Luh Gede Sukardiasih M.For dan Ketua YKI Tabanan Ny. Komangsanjaya.
Prof.Dr.dr. Ketut Suwiyoga, Sp.OG (K) yang juga merupakan koordinator pelatihan FCP "See & Treat" MFS daerah Bali menjelaskan, "Di Bali terdapat 114 Puskesmas di 8 kabupaten dan 1 kodya yang kesemuanya telah melakukan pelatihan program "See & Treat" dan sudah menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih untuk memberikan layanan pencegahan kanker serviks kepada masyarakat. Namun kesiapan SDM ini masih harus dilengkapi oleh fasilitas peralatan krioterapi yang mencukupi jumlahnya. Saat ini di 114 puskesmas di Bali hanya memiliki 38 alat krioterapi. Tanpa alat krioterapi, program "See & Treat" akan terhambat."
Kemajuan program pencegahan kanker serviks di Bali ini tidak terlepas dari dukungan penuh Dinas Kesehatan, PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Bali, dengan FK Udayana sebagai koordinator.
Pada tahun 2010, penduduk Bali berjumlah 3,9 juta jiwa dengan sekitar 553 ribu wanita usia subur memiliki angka kejadian 43/100.000 perempuan terkena kanker serviks (0,89%). Dalam waktu 2 tahun sejak 2008, 116,7 ribu perempuan Bali sudah menerima penyuluhan kanker serviks dan lebih dari 45.000 sudah melakukan deteksi dini dengan IVA.
Kegiatan pencegahan kanker serviks juga telah pula dilakukan oleh beberapa daerah, seperti Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Karawang, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Pontianak, Manado dan Makasar.
Tentang AOGIN
AOGIN, Asia-Oceania Research Organization in Genital Infection and Neoplasia, merupakan organisasi internasional yang memiliki visi untuk mengurangi angka kejadian akibat infeksi oleh Human Papilomavirus (HPV) pada sistem reproduksi wanita. AOGIN beranggotakan klinisi dan ilmuwan dan bekerja sama dalam bentuk kolaborasi dan riset, pertukaran ilmiah, pendidikan dan pelatihan, penyediaan informasi, survey dan audit. AOGIN yang beranggotakan 16 negara Asia Oceania dan Pasifik memiliki misi untuk bekerja sama dengan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, penyedia layanan kesehatan dan masyarakat dalam mengurangi beban penyakit karena HPV.
Acara AOGIN Interim Meeting di Bali berlangsung dari 17-19 Maret, bertema “Holistic Approach to Eradicate Cervical Cancer” terdiri dari workshop ilmiah yang mengangkat berbagai aspek klinis dan perkembangan ilmu kedokteran berkaitan dengan kanker serviks dan menampilkan lebih dari 40 dokter sebagai pembicara dan diikuti lebih dari 400 dokter ginekolog (ahli kandungan), epidemiolog, patolog, onkolog (ahli kanker) dan dokter umum.
Tentang kanker serviks
Kanker serviks merupakan kanker yang jumlah penderitanya kedua terbanyak di seluruh dunia maupun di Indonesia. Menurut WHO, setiap tahunnya di dunia terdapat 500.000 kasus baru kanker serviks, dimana separuhnya, yaitu 250.000, berakhir dengan kematian dan hampir 80% kasus terjadi di negara berpendapatan rendah.
Di Indonesia, lebih dari 70% kasus kanker serviks ditemukan saat sudah stadium lanjut (di atas 2B), dengan angka kejadian setiap satu jam seorang perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV), memiliki angka kejadian dan kematian yang cukup tinggi, namun penyakit ini dapat dicegah, dengan promosi yang terus menerus, vaksinasi HPV dan dengan melakukan deteksi dini antara lain Pap smear dan IVA, yang dapat menemukan kelainan dalam stadium pra kanker sehingga dapat dilakukan terapi secepatnya.